Akhirnya modem diisi lagi, bisa ngepost lagi. Nggak ada modem nggak ada hape rasanya sepi banget, nggak bisa fangirlingan, susah dapet info dari sana sini, hhh!
Tapi sekarang aku bukannya pengen bahas modem sih hahahah. Jadi beberapa waktu yang lalu guru bahasa Indonesia ngasih tugas bikin cerpen sama bikin puisi karangan sendiri. Kepikiran aja buat iseng ngepost disini lol, siapa tau di masa depan(?) pas baca blog ini keinget lagi sama buah pena karya sendiri xD

Spoiler untuk cerpen:



Memahami Hati Dania
           Pagi yang cerah dan sibuk, kendaraan berlalu-lalang di jalanan. Kedua kaki Dania melangkah dengan pelan, sambil sesekali menarik tas dipunggungnya yang berat. Sekolahnya memang tidak terlalu jauh, dan Dania memang tidak merasa lelah setiap hari berjalan kaki  kesana, namun ia hanya cemburu ketika melihat teman-temannya diantar oleh orangtua mereka.
            Api cemburu itu seakan padam setiap kali Dania melihat Ibu dengan sepeda motornya mengantar Kakak Rana dan Fahmi. Sekolah mereka jauh, dan ia harus mengalah.
            “Aku harus mengalah,” anak perempuan itu menghela napas, ia ingat ketika Fahmi mengambil pensil kesayangannya. “Aku cuma pinjam sebentar, untuk menggambar Superman!” kata Fahmi saat itu, namun Dania tahu betul sifat adik laki-lakinya itu, barang yang Fahmi pinjam selalu hilang atau rusak.  Fahmi berteriak ketika Dania terus berusaha menyembunyikan pensil itu dari Fahmi. Teriakannya buruk sekali, seperti suara nenek-nenek sihir di acara-acara Televisi kesukaan Fahmi. Ibu mendatangi mereka dan menyuruh Dania mengalah. Pensil itu sudah terbagi dua saat kembali berada di tangan Dania.
            “Dimana pekerjaan rumahmu, Dania?” tanya Ibu Ros dengan logatnya yang khas, saat jam pelajaran di kelas.
            “Belum dikerjakan, Bu,” jawab Dania, sedikit panik. Dia benar-benar tidak ingat untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan Ibu Ros, tadi malam Bibi membentak-bentak Ibunya, membuat rumah menjadi berisik. Bibi bilang anak-anaknya tidak bisa tidur gara-gara Fahmi, dan bermacam-macam alasan agar si Bibi cerewet ini bisa memarahi Ibu. Dania lebih memilih untuk tidur daripada mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut bibinya.
            “Berdiri di luar kelas!” titah guru berkacamata itu. Dania segera melaksanakannya, tidak tampak takut sedikit pun, ia malah tersenyum lebar memperlihatkan deret giginya yang putih.
            Kadang-kadang Dania memang lebih senang berada di Sekolah dibanding di rumah. Kondisi rumah sering membuatnya tak nyaman. Dania bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia merasa bahagia tinggal di rumah. Mungkin saat ia masih bayi, saat Dania belum mengerti apapun.
            Dulu Dania tinggal di sebuah kota besar, saat ia masih tinggal bersama Ayah, Ibu, Rana, dan Fahmi. Hanya mereka berempat. Ayah dan Ibu tidak pernah merasa cocok satu sama lain dan akhirnya bercerai. Ayah tetap tinggal di kota itu, sedangkan mereka bertiga pindah ke suatu kota kecil yang masih asri, di rumah Kakek dan Nenek. Tidak lama setelah pindah, Dania mendengar kabar bahwa Ayah menikah lagi. Kakak Rana sangat membenci Ayah, hadiah yang Ayah kirim tak pernah disentuhnya. Dania tidak membeci Ayah tetapi juga tidak menyayanginya, namun Dania selalu menggunakan hadiah pemberian dari Ayah. Kata  orang-orang dewasa disekitarnya, rezeki tidak boleh ditolak.
            Ada Bibi dan Paman beserta dua anak mereka yang juga tinggal di rumah Kakek. Mungkin keadaan rumah itu akan lebih baik jika tanpa keberadaan mereka. Paman adalah pria yang suka memerintah, dia tidak punya pekerjaan tetap, hanya membantu Kakek menjalankan bisnis kecil-kecilan mereka. Dania tidak ingat apa saja bisnis yang dilakukan oleh Kakek, sangat banyak. Uang pensiunan Kakek juga tidak sedikit, penghasilan-penghasilan itulah yang menghidupi mereka.
            Anak-anak Paman jauh lebih muda daripada Dania. Mereka sangat tidak bersahabat, bisanya hanya berlindung di ketiak Bibi. Jika mereka ada di rumah, Dania tidak akan punya kesempatan untuk menonton Televisi, bahkan untuk berkeliaran di sekitar rumah pun dia jadi enggan. Bibi sering sekali mengatakan bahwa Dania dan Fahmi sangat berisik, padahal anaknya lah yang suka berbuat onar di rumah. “Menumpang di rumah orangtua, dasar tidak tahu diri! Anak-anakmu juga seharusnya dididik, jangan hanya bisa menyusahkan orang,” kata Bibi berkali-berkali, dia mungkin tidak sadar bahwa dia juga menumpang. Dania sering melihat Ibu menangis di kamarnya, karena ulah Bibi. Dan setiap kali melihat kekacauan di rumah ini, muncul perasaan seperti mau meledak dalam diri Dania. Mungkin ia belum sadar, hatinya telah memberontak.

            “Ibu dipanggil oleh gurumu, katanya kamu sudah beberapa kali tidak membuat tugas. Kelakuanmu membuat Ibu lelah, Dania! Apa kamu tidak bisa meniru Rana? Rana selalu membanggakan Ibu, selalu juara kelas. Dania jangan membuat Ibu malu!”
            Ibu mengomel lagi. Dania kesal, ia paling tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Dania hanya diam dan melangkah masuk ke kamarnya.
            “Dania, kalau Ibu sedang berbicara tolong didengarkan. Tak sopan, jangan pasang ekspresi seperti itu! Nenek tidak suka!”
             Kali ini omelan dari Nenek, membuat telinga Dania semakin panas saja. Dania segera menutup pintu kamar dan melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Dilihatnya Rana yang sedang mendengarkan musik, lagu-lagu berbahasa Korea sepertinya. Kakak Rana suka sekali dengan grup-grup dari Negara Gingseng itu, Dania sampai hapal nama-namanya. Dania juga senang mendengarkan lagu-lagu yang diputar Rana, dia juga mengagumi wajah-wajah tampan para penyanyinya. Rana selalu marah ketika Dania menunjukkan ketertarikannya kepada sang idola. “Memangnya dia itu kekasihmu apa?” ujar Dania dalam hati.
            Dania selalu menganggap kakaknya itu menyebalkan. Walaupun sebenarnya semua orang dirumah ini juga dianggapnya menyebalkan, tapi berada di kamar yang sama dengan Rana adalah hal paling menyebalkan di rumah ini. Dania selalu disuruh keluar dari kamar apabila Rana sedang belajar, selalu bertingkah sekan-akan kamar itu adalah miliknya sendiri. Setiap kesalahan kecil yang dibuat oleh Dania akan dilaporkannya kepada Ibu, “Lihat Dania, bu! Dia menganggu Rana terus!”. Dan Ibu seperti biasa akan menyalahkan Dania, membela anak sulungnya yang pintar. Dania lagi-lagi hanya bisa mengalah.
            “Rumah ini sudah sesak. Jangan malah bertambah sesak lagi karena kelakuan onarmu, Dania! Aku butuh ketenangan buat belajar,” ujar Rana.
            “Berisik! Kalau butuh ketenangan, Kakak pergi saja ke kuburan!” bentak Dania, lalu menutup matanya, mencoba untuk tidur.

            Dania yang dipandang bocah pembangkang dan pembuat masalah sebenarnya tidak seburuk itu.  Perintah-perintah yang diberikan orang-orang dewasa disekitarnya sering dia turuti dengan senang hati. Umurnya hanya 11 tahun, tapi ia bahkan lebih rajin membantu orang-orang di rumahnya dibanding Rana yang sudah berumur 14 tahun. Membersihkan lantai rumah, menyiapkan makanan untuk keluarga, mengantar makanan ke tetangga, membeli sesuatu di warung atau membawakan payung ketika Fahmi tidak bisa pulang dari rumah temannya karena hujan lebat.
            “Dania lelah, bu. Baru saja pulang sekolah langsung disuruh membeli tepung. Dania lakukan nanti saja ya,” tutur Dania, suatu kali.
            “Tapi Ibu butuhnya sekarang,” ujar ibunya, tak mengerti. Raut muka Dania berubah, ia mulai merasa kesal.
            “Kenapa tidak suruh Kakak Rana saja?  Dania sudah sering disuruh kesana kemari oleh ibu. Tidak adil. Kenapa selalu Dania?”
            “Nada bicaramu turunkan, Dania! Kakak sedang belajar, besok ada ulangan. Dania jangan membantah lagi! Sudah berani durhaka sama Ibu, sudah merasa hebat ya kamu Dania? Iya?” tanya Ibu, terlihat marah. Dania menunduk, ia segera mengambil uang ditangan ibunya sambil berlalu untuk segera melakukan apa yang Ibu perintahkan.
            Airmata tertahan di pelupuk mata Dania. Ia marah sekali, hatinya sakit. Dania seperti berada di tempat yang luas namun dirinya terikat oleh rantai besi, ia tidak bisa lari. Dania ingin sekali untuk cepat tumbuh dewasa, sehingga ia bisa melepaskan rantai-rantai besi itu.
            “Kak Dania, Ayah akan memberikan Fahmi mainan baru saat hari ulang tahun nanti!” ucap Fahmi ketika Dania baru selesai membelikan tepung untuk Ibu. Raut wajah Fahmi terlihat bersinar, begitu senang. Namun sinar itu terlalu menyilaukan bagi Dania sehingga ia ingin meredupkannya. Dania tidak menghiraukan panggilan Fahmi, membuat anak kecil itu menarik-narik lengan kakaknya, minta diperhatikan. Dania mendorong Fahmi, adiknya terjatuh dan menangis dengan keras. Dania tahu ia sudah membuat kesalahan, karena sekarang tiap orang di rumahnya mulai menggurutu karna tangisan si bungsu. Dan diantara orang-orang itu Ibu lah yang paling marah dengan sikap Dania.
            “Ibu tidak menyangka Dania bisa sekasar ini sama Fahmi. Dania seperti anak yang tidak pernah dididik! Apa susahnya mendengarkan adikmu sendiri?”
            “Dania kesal, bu! Dania tidak mendapat apa-apa di hari ulangtahun Dania yang lalu. Ibu sampai membuat banyak makanan jika itu hari lahir Kakak dan Fahmi. Ayah juga, selalu saja hadiah Fahmi yang paling besar.” Protes Dania, memberanikan diri. Dania jarang sekali melawan Ibu, namun kali ini kesabaran Dania sepertinya sudah melampui batas.
            “Itu namanya tidak bersyukur, Dania. Lebi baik sekarang Dania masuk kamar, sekarang!” titah Ibu.
            “Apa karena Dania mirip dengan Ayah? Apakah itu alasannya sehingga Ibu memperlakukan Dania secara berbeda? Dania juga punya perasaan, Bu. Dania merasa jadi pembantu yang diperlakukan tidak adil di rumah sendiri,” ucap Dania, namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ibu sudah mendarat di pipinya.
            “Dania tertekan, bu,” sambung Dania, tanpa memerdulikan rasa sakit di wajahnya. “Waktu dulu Ibu pernah melarang Dania untuk ikut belajar mengaji, Ibu berkata bahwa Dania lebih baik bersekolah saja dengan benar. Tapi otak Dania tidak seperti Kakak, mendengar kericuhan di rumah membuat Dania muak. Sementara Dania selalu diperlakukan tidak adil, apa salah Dania?”
            Ibu hanya memerhatikan putri keduanya itu, membiarkannya berbicara. Ntah karena anaknya terlalu banyak menonton Televisi atau karena hal lain, tapi ia tidak percaya Dania meluncurkan kata-kata itu dari mulutnya.
            “Dania juga lelah setiap hari pura-pura tegar begitu padahal hati Dania sakit. Dania harap Ibu bisa mengerti,” Dania menyudahi kalimatnya. Ia mulai terisak, airmatanya mengalir deras. Dan Ibu jarang sekali melihat Dania menangis seperti itu. Ibu meninggalkan Dania dan pergi ke kamar. Di dalam sana, Ibu juga menangis.
           
            Nenek memerkenalkan seorang laki-laki tua kepada Ibu, umurnya sekitar 50 tahun, terpaut 10 tahun dengan umur Ibu. Pria kaya ini akhirnya menjadi suami baru Ibu. Rana senang sekali saat itu, dia mengatakan hidupnya akan lebih baik dengan uang dari pria ini. Namun Rana salah. saat mereka pindah ke rumah mewah Ayah barunya, Ibu dimaki oleh anak-anak Pria itu.
            “Menikah dengan ayah kami supaya kau bisa merebut hartanya, kan? Dasar wanita licik. Kau jangan berharap bisa menjadi ibu kami,” ujar anak tertuanya, kasar sekali. Anak-anak “tiri” Ibu memang sudah dewasa semua, tapi mereka tamak sekali akan uang
            Dania tidak pernah diajak kesana, namun ia sering mendengar cerita itu saat Ibu mengadu pada Nenek. Bukannya tambah bahagia, Ibu malah merasa sengsara karena selalu diperintahkan macam-macam oleh anak-anak itu. Dania makin sering melihat Ibu menangis, dan ntah kenapa Dania sedih sekali melihatnya. Ia sadar, bukan hanya dia yang merasa tertekan di rumah ini, tapi Ibunya juga. Dania memeluk ibunya, berharap agar Ibunya bisa lebih tenang.
            Tidak berapa lama setelah itu, Ibu dan pria itu bercerai. Dania dan Rana sangat senang. Ibu juga tidak terlihat sedih, walaupun Bibi selalu berkata yang tidak-tidak pada Ibu, Ibu tetap sabar.

            “Dania bisa saja tumbuh dewasa dengan cepat akibat situasi yang mengekangnya. Ibu jangan heran melihat pola perbuatannya. Justru Ibu lah orang yang paling ia butuhkan, orang yang memberinya dukungan. Itu hal yang wajar untuk anak-anak yang mengalami Broken Home. Anak-anak itu cenderung memberontak, dan dia bisa tumbuh jadi pribadi yang buruk apabila tidak diperhatikan. Bila perlu Ibu ajak Dania pergi menyegarkan pikiran dan hatinya.”
            Kalimat demi kalimat yang dituturkan Ibu Anas terngiang-ngiang di otak Ibu. Ibu Anas adalah teman dekat Ibu, tapi juga seperti psikolog baginya yang dengan senang hati selalu membantunya menyelesaikan masalah.
            “Apa Dania setertekan itu?” tanya Ibu dalam hati. Tapi ketika ia mengingat segala hal yang telah diterima anaknya, ibu akhirnya paham. Saat itu juga Ibu memeluk Dania yang sedang menikmati acara Televisi kesukaannya, Dania heran sekali, ditambah lagi Ibu juga menangis.
            “Ibu berjanji akan lebih perduli terhadap kondisi Dania. Cobaan kita memang berat, tapi kita pasti bisa melaluinya. Ibu ingin membesarkan Dania, Rana, dan Fahmi dengan baik. Ketika kalian sudah besar nanti, Ibu percaya kita akan bahagia,” batin Ibu.





Spoiler untuk puisi:

Terpuruk
Oleh: Annisa Octaria Aminy
Saat kau terjatuh di malam itu
Sunyi senyap
Bahkan jarum jam yang berjalan pun terlihat tak sudi menunggumu

Kau sangka angin enggan menyapamu
Sehingga kau tak bisa terlelap
Kau sangka langit begitu membecimu
Sehingga semua terlihat gelap

Kau yang disana
Disamping tempat tidurmu
Tampak begitu kelam
Tampak begitu suram

Kau yang disana
Dengan bulir-bulir air di pipimu
Berkata dunia ini kejam
Sehingga kau benci menempatinya
Sehingga kau ingin menyudahi permainannya

Seketika adegan-adegan di masa lalu bermain di kepalamu
Kenangan-kenangan buruk yang tak ingin kau ingat lagi
Kemudian mimpi-mimpi besarmu itu
Sekan pergi dan meledak
Tak menyisakan harapan

Hingga di pagi hari
Mentari muncul dengan ramahnya
Membawamu ikut tersenyum bersamanya
Melupakan engkau yang sentimental pada malam itu
Melupakan semua keputusasaanmu
Memompa kembali mimpi-mimpi itu
Menyapa duniamu yang baru


Powered by Blogger.