beberapa minggu yang lalu *kelamaan yak wkwk* kami ditugasin pakpit tentang pengalaman hidup gitu, katanya sih karna ada hubungannya dengan sosialisasi *au ah aku juga gak ngerti ==* ya aku coba buat, tapi agak pening jugalah, mulainya darimana terus bahasanya gimana aku gak ngerti, yaudah aku tumpuk aja *kebiasaan ini mah xp* 

terus gak terasa tiba-tiba hari H nya dateng, aku langsung panik, dan disaat itu juga ada panggilan dari BK katanya aku ngewakilin sekolah gitu di acara seminar-seminaran hahahaha yessss *student laugh* jadinya aku ada kesempatan ngundur waktu lagi xD, pas mau dikumpulin terpaksa aku buat ceritanya dengan sangat seadanya == kemampuan bahasaku kan emang jelek == yah pokoknya gak ahli deh yang begituan == ininih hasilnya, awalnya gak mau di share di blog, tapi lagi iseng yaudah :p

Pengalaman Hidup Saya
Pada tanggal 08 oktober 1995 saya dilahirkan di pekanbaru sebagai anak pertama. Saat itu ayah senang menulis di buku tentang peristiwa yang dialaminya sehari-sehari sehingga saya beruntung bisa sedikit tahu tentang apa yang terjadi waktu dilahirkan dulu. Dalam buku tulis itu ayah bilang kalau mereka senang menyambut kedatangan saya, saya sangat bersyukur atas itu selain karena saya bisa lahir dengan keadaan normal.
            Seperti anak-anak lainnya saya diajarkan tentang semuanya, pada umur 11 bulan saya sudah bisa berjalan, namun baru bisa bicara pada umur satu tahun lebih. Selain itu saya tentunya sudah dibawa ke dunia luar, mengenal tetangga, dibawa kemana-mana, kebetulan di daerah rumah saya banyak yang sebaya dengan saya, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga kadang-kadang ibu mengajak saya kerumah tetangga yang memiliki anak seumuran dengan saya, jadi disana saya bisa bermain dengan teman-teman ‘baru’ saya. Bahkan saya sampai punya teman dekat yang jadi teman bermain saya sampai saya duduk di sekolah dasar. Salah satunya yuni, umur kami terpaut empat bulan. Pernah waktu itu kami sedang bermain dengan jepitan rambut saya. Dikarenakan saya sering melihat abang-abang yang suka memakai anting-anting di hidung, saya pun menjepit jepitan itu ke hidung saya, begitu pula dengan yuni, namun karena ukuran jepit itu yang kecil dan bulat jepitan itu masuk ke lubang hidungnya. Kami semua panik begitu pula orangtua kami. Karena sakit yuni menangis dan dia dibawa ke dokter, saat itu yuni sempat tidak mau berteman dengan saya, tapi selang beberapa lama kami berteman kembali.
            Waktu saya berumur tiga tahun, ibu saya mengandung lagi, saya menantikan kelahiran adik saya ini. Akhirnya dia lahir sebagai anak perempuan, saya punya teman dirumah. Waktu saya berumur tiga tahun, saya terkena penyakit campak dan gatal-gatal, namun kata ibu termasuk parah karena penyakit itu membuat saya sulit berjalan, cobaan memasuki dunia sosialisasi sekunder ini dimulai, banyak teman mengejek dan tidak mau berteman dengan saya tapi ibu selalu menyemangati saya dan berkata kalau terus berdoa gatal-gatal itu sembuh. Setelah beberapa bulan Alhamdulillah saya sembuh, saya akhirnya bisa bermain dan berteman lagi dengan siapapun, sampai ketika saya umur lima tahun saya didaftarkan disalah satu taman kanak-kanak di komplek perumahan rumah kami, TK “kembang harapan”
            Masuk taman kanak-kanak merupakan hal yang menyenangkan karena saya bisa berteman dengan orang baru dan mendapatkan pendidikan baru juga disana. Di TK kami belajar saling membantu, misalnya ketika pelajaran seni, saya memang lemah dalam pelajaran ini dan saya meminta bantuan teman-teman yang lebih pandai, dan ketika mereka kebingungan membaca teks saya juga akan membantu mereka. Ketika jam istirahat anak-anak akan berebut ayunan tapi kami tidak, kami lebih memilih bermain ‘power ranger’ sambil mengitari halaman sekolah. Di TK kami juga diajarkan tampil berani, kebetulan kelas saya dipilih untuk pergi ke stasiun RRI, disana kami akan bernyanyi, berpantun dan sebagainya, hasilnya akan diperdengarkan di radio.
            Setelah tamat TK, saya didaftarkan ke sekolah dasar yang letaknya dekat dengan TK saya, SDN 025. Rata-rata teman TK saya masuk ke SD ini, namun sayangnya teman-teman dekat saya memilih sekolah lain dan sampai sekarang saya bahkan tidak tahu mereka dimana. Saya duduk di bangku kelas I C, sampai kelas enam orang-orang inilah yang sekelas dengan saya, yang berubah hanya jika ada anak pindahan. Setiap naik kelas teman sebangku saya berubah-ubah, kami semua berteman cukup baik di kelas. Walaupun terkadang sering terjadi pertentangan di kelas. Biasanya disebabkan karena teman kami yang merasa hebat suka memilih-milih teman. Saya cuma bisa diam, mengingat mereka suka bermain kasar, saya lebih memilih berteman- dengan orang yang menerima siapapun dengan senang hati. Sering juga mereka memusuhi saya karena saya pelit memberi jawaban, tapi dalam beberapa hari saja kami sudah berbaikan kembali.
            Hubungan saya dengan teman-teman disekitar rumah pun tetap berjalan baik. Ketika sore tiba kami pergi bersama-sama memanjat pohon ceri, kemudian membagi-baginya sama rata. Kami juga sering pergi kesuatu tempat dimana disana kami bisa mendaki bukit pasir, bermain air, dan mengambil tanah liat. Tempat itu seperti lapangan luas dekat bendungan yang kami namakan “telaga hijau” karena disana banyak genangan air yang berwarna hijau. Tidak banyak yang kesana, mungkin karena takut, bahkan pernah suatu kali ketika kami sedang asyik melihat pemandangan dari atas bukit, datang segerombolan abang-abang yang mengendarai motor, sebenarnya kami ingin lari tapi melihat tujuan mereka bukan kearah kami, saya dan teman-teman diam saja sambil melihat mereka dari atas, setelah mereka pulang kami hampiri tempat mereka duduk tadi, kami sungguh terkejut karena disana banyak sekali lem kambing berserakan, kami menyimpulkan bahwa abang-abang itu kemari untuk “menghisap”, kejadian itu justru menantang kami untuk menyelidikinya tapi akhirnya gagal karena peralatan yang dipunyai anak kecil seperti kami tidak memadai namun walaupun begitu kami tetap suka kesana dan berharap tempat itu akan tetap seperti itu sampai kami besar.
            Untuk pertama kalinya saya mengikuti ujian kelulusan waktu kelas enam, hati kami was-was karena guru-guru berkata bahwa yang tidak lulus banyak sekali. itu membuat beberapa teman saya berkata kalau banyak yang tidak lulus artinya akan ada nikah massal, ini memang membuat saya tertawa tapi juga takut jangan-jangan hal itu akan terjadi namun akhirnya saya dan teman-teman bisa bernapas lega karena sekolah kami seratus persen lulus. Saya dan tiga teman saya yaitu arum, yoyok, dan hamim berencana masuk di sekolah yang sama, MTsN pekanbaru.
            Hari pendaftaran pun tiba, kami diharuskan mengikuti tes. Setelah diumumkan Alhamdulillah kami berempat lulus. Calon murid yang lulus diharuskan mengikuti MOS selama dua hari, kami juga diwajibkan memakai atribut yang aneh-aneh, topi ember, papan nama dari kardus, kalung sandal jepit dan gayung, tas dari plastik, dan sebagainya. Ada tujuh kelompok saat MOS yang dinamai dengan nama stasiun TV, saya masuk ke kelompok SCTV, saya tidak sekelompok dengan teman-teman SD, walaupun kecewa tapi saya sadar justru disini saya harus mengenal orang-orang baru lagi. Beruntung kami mendapat senior yang baik, kami menikmati MOS dengan gembira tanpa penyiksaan. Setelah MOS berakhir, kelas kami pun dibagikan. Rata-rata teman saya di kelompok SCTV mendapat kelas VII 1, saya kecewa lagi karena nama saya tidak masuk sebagai murid kelas itu, malahan saya sampai ‘terdampar’ di kelas VII 8 yang berada dilantai dua, sekali lagi saya harus berkenalan dengan orang-orang baru. Tapi disini saya sekelas dengan yoyok, setidaknya saya tidak diam membantu dihari pertama sekolah.
            Kelas VII 8 cukup menyenangkan, muridnya lucu dan kami sering berebutan untuk maju kedepan menjawab soal, persaingan terasa sekali diantara kami. Walaupun kadang banyak hal yang membuat saya kesal tapi hal itu tidak berlangsung lama karena mereka akan kembali menunjukkan muka ramah mereka.
            Belum sampai satu semester saya belajar di kelas VII 8, kepala sekolah mengadakan “tes kelas unggulan”. Siapa yang lulus akan ditempatkan di satu lokal, dan kelas itu akan diberikan fasilitas yang lebih dibanding yang lain. Saya sangat mengaharapkan kelas itu, hingga akhirnya tes dimulai dan saya dinyatakan lulus tes pertama bersama sepuluh anak kelas VII 8 yang lain, termasuk teman SD saya tadi. Peserta yang lulus tes pertama berjumlah 35 orang dan harus mengikuti tes psikotes. Alhamdulillah saya lulus, begitu pula teman SD saya itu, tapi sayang dua orang dari VII 8 gagal karena hanya orang yang mendapatkan rangking psikotes satu sampai dua puluh delapan yang diterima.
            Saya duduk di kelas VII 1, sedih juga rasanya meninggalkan VII 8 tapi saya harus terima karena kesempatan seoerti ini jarang sekali. Lagi-lagi saya berkenalan dengan teman baru, tapi setengah dari kelas ini sudah saya kenali karena mereka teman satu kelompok dan satu kelas dulu. Suasana persaingan semakin terasa saja disini, ternyata benar kata kepala sekolah, baru sebentar saja kami sudah mendapatkan pelatihan olimpiade, televisi, VCD, jeruji jendela, bahkan meja kami memakai alas meja sendiri, saya benar-benar bersyukur atas ini, teman-teman dikelas saya walaupun pitar-pintar tapi mereka ramah sekali, bahkan mereka pandai sekali membuat lelucon sehingga setiap hari kami selalu tertawa. Kami semakin akrab saja sampai kelas VIII. Teman dekat saya makin banyak dikelas ini, terkadang terjadi perkelahian atara saya dan teman dekat saya itu, tapi kami bisa mengatasinya dengan baik. Waktu naik kelas delapan, kelas unggulan bertambah satu, mereka adek kelas kami. Kelas saya dan kelas baru itu bersebelahan, sering terjadi persaingan disini, karena sering kali adek kelas kami itu merasa di-anak tiri-kan oleh kepala sekolah, padahal sebenarnya mereka mendapatkan perhatian yang lebih dari guru-guru dibanding kami, tapi yang bertikai itu tidak semuanya seperti itu, kadang kami malah berkerja sama sebagai tim.
            Suasana panas terjadi semenjak kelas kami mulai mendapatkan juara di lomba-lomba antarkelas salah satunya lomba K3. Sekolah saya setiap minggunya mengumumkan tiga kelas terbersih dan tiga kelas terkotor dari hasil penilaian guru-guru selama mengajar, dan sering kali nama kelas kami dipanggil sebagai kelas terbersih dan berhak dipasang bendera biru didepan kelasnya. Dari sinilah omongan tidak sedap muncul, kami sering dilihat sinis juga karena mereka beranggapan kami mendapat gelar K3 karena kelas kami difasilitasi, padahal menurut saya setiap kelas bisa saja mendapatkan gelar itu asal menjaga kebersihan kelasnya saja. sempat juga banyak guru-guru yang marah pada kami, kami yang merasa bersalah langsung meminta maaf kepada guru-guru satu persatu.
            Sistem di MTs tidak ada pergantian kelas tiap tahun, makanya kami berdua puluh delapan teru bersama dari awal masuk kelas VII1 hanya saja ketika naik kelas delapan asa dan aka pindah, sehingga kami tinggal dua puluh enam.
            Ketika saya kelas delapan semester satu, ayah di pindah tugaskan ke Bangka. Berita ini mengembirakan sekaligus menyedihkan bagi saya, menyenangkan karena akhirnya ayah naik pangkat tapi menyedihkan karena artinya saya juga harus ikut pindah dan meninggalkan teman-teman di MTs yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Tapi karena terlalu tanggung jadi ayah memutuskan pindah ke Bangka sendiri dulu baru kami sekeluarga menyusul ketika kenaikan kelas. Selama ayah di Bangka, saya yang biasanya pergi naik mobil diharuskan naik bus kota dan bangun lebih pagi. Tapi saya menikmati itu karena mulai saat itu saya pergi sekolah tidak bergantung ke orang lain, biasanya jika ayah terlambat maka saya pun ikut terlambat, beda dengan naik bus, semua resiko ada di saya.
            Mendekati hari naik kelas, saya mengatakan kepada orangtua saya agar saya bisa tinggal sampai kelulusan, sayangnya orangtua saya tidak setuju. Saya terus membujuk agar diizinkan karena menurut saya setahun bersekolah disekolah lain rasanya tanggung, selain itu akan banyak yang diurus karena ujian nasional, setelah agak lama akhirnya orangtua saya setuju dan membolehkan saya tinggal berdua dengan tante saya di Pekanbaru. Sebenarnya ada rasa sedih juga waktu ditinggal, tapi karena saya sudah bertekad dari awal saya harus terima dan tetap konsekuen dengan pendapat sendiri.
            Setelah naik kelas sembilan, saya mengurus diri saya secara mandiri, karena mengharapkan tante sangat tidak mungkin, dia juga punya pekerjaan yang harus dia urus. Kadang agak sulit juga ketika saya butuh buku atau sesuatu yang harus dibeli karena harus menunggu kiriman uang. tapi sekalipun sulit rasanya tinggal jauh dari orangtua ketika mendekati ujian saya tetap semangat lagipula di sekolah saya memiliki teman-teman yang benar mengerti saya. Selain itu dikelas ada yang bernasib tinggal berdua sama seperti saya, kami sering saling cerita tentang keadaan kami masing-masing yang jujur saja lebih banyak hal menyebalkannya.
            Semakin mendekati ujian nasional dan perpisahan rasanya kami sekelas makin akrab saja. Bahkan kami suka berkumpul untuk mengkritik satu sama lain atau sekedar mencurahkan isi hati. Sesekali anak laki-laki ikut dalam acara kami, semuanya jadi terasa lepas ketika kita tahu keburukan kita di mata teman-teman kita, kadang ada yang mengeluarkan airmata, termasuk saya. kami melakukan ini agar tidak ada yang dipendam lagi setelah perpisahan, agar ketika bertemu kembali nanti tidak ada rasa permusuhan yang tersimpan.  Acara tukar kado juga sering kami lakukan, pokoknya kami berusaha membuat kenangan manis sebelum kami benar-benar berpisah. Dan kami merasa benar-benar saling memahami saat itu.
            Semester dua kelas sembilan penuh dengan ujian ataupun Try Out. Selain itu banyak juga sekolah-sekolah yang sudah membuka pendaftaran murid baru. Kamipun mulai daftar sana-sini di sekolah terbaik yang kami inginkan. Saya juga tidak mau ketinggalan, saya mendaftar di SMAN 8 yang merupakan sekolah terbaik di pekanbaru dan SMAN PLUS sekolah terbaik di Riau. Sebenarnya MAN 2 MODEL juga membuka pendaftaran tapi man masih membuka jalur pendaftaran kedua setelah lulus nanti, jadi saya menundanya dulu. Namun saya sedih sekali karena saya gagal di kedua sekolah tersebut, teman-teman saya banyak yang sudah diterima. Tapi saya melihat sisi positif saja mungkin sekolah itu tidak “jodoh” dengan saya atau ini teguran agar saya menepati janji agar sekolah di Bangka. Akhirnya saya ikuti saja kemauan orangtua untuk pindah setelah lulus nanti.
            Perpisahan pun tiba, acara diselenggarakan di sekolah dengan pertunjukan seni dan band. Kami sekelas dipercaya menjadi paduan suara, baru beberapa bait airmata kami sudah mengalir deras, setelah turun panggung suara tangisan meledak padahal baru setengah acara dilaksanakan. Berat rasanya harus berpisah, apalagi ketika saya mengingat saya tidak SMA di Pekanbaru.
            Setelah perpisahan kami menunggu hasil kelulusan ujian nasional, alhamdulllah saya lulus. Dua orang dinyatakan gagal di MTs, sedih melihatnya karena yang gagal itu termasuk anak berbakat di sekolah.
            Kami yang belum benar-benar siap berpisah masih suka berkumpul disekolah, kamipun berencana membuat perpisahan sendiri di Siak, yaitu salah satu kabupaten yang ada di Riau. Dengan uang Rp50,000 per orang kami pergi naik bus, sampai disana kami habiskan melihat peninggalan bersejarah sambil mengabadikannya dengan kamera. Namun sebenarnya yang kami nikmati adalah rasa kebersamaan itu yang mungkin tidak bisa kami lakukan lagi nanti.
            Setelah pamit dengan teman-teman, ayah menjemput saya. Saya pergi menggunakan jalur udara. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bangka, ayah dan saudara ayah disana membawa saya berkeliling di Jakarta, itu adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki disana. Setelah berjam-jam melihat Jakarta perjalanan diteruskan kembali.
            Saya yang tidak tahu apa-apa mengenai Bangka hanya menurut saja mau di sekolahkan kemana. Ayah menyekolahkan saya di SMAN 4. Disana saya bertemu dengan teman-teman baru dikelas sepuluh dua.
            Semenjak SMA, saya mulai benar-benar aktif di dunia internet. Sebenarnya saya sudah mengenalnya sejak awal SMP tapi karena waktu itu saya masih mengandalkan warnet agak kesulitan juga. Alhamdulillah ayah sedang ada rezeki dan membelikan saya sebuah netbook kecil. Pertama saya mulai aktif di twitter, suasananya benar-benar berbeda dengan facebook. Teman-teman facebook saya rata-rata satu daerah atau hanya yang kenal saja. Berbeda dengan twitter, teman-teman saya berasal dari seluruh nusantara bahkan ada yang dari luar negeri. Senang rasanya bisa berteman dengan mereka. Apalagi kami memiliki kesamaan hobi yaitu menyukai hal-hal yang berbau korea terutama musik dan dramanya, itulah yang menyatukan kami. Alhamdulillah sejauh ini saya bisa cukup berteman dengan teman-teman yang berasal dari Lampung, Jakarta, Depok, Jember, bahkan Chili. Saya juga mulai suka bergabung di forum internasional, selain menambah pengetahuan dan teman saya juga bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya.
            Sampai sekarang saya masih ingin menambah teman, ternyata dari hubungan sosial seperti berteman kita bisa menambah pengalaman dan pengetahuan. Orang sukses saja pasti butuh teman di sekitarnya. Semoga dengan menambah teman yang artinya menambah pengetahuan saya bisa membantu untuk menggapai cita-cita kelak.
           
 hahaha, jelek kaaaan ==


Powered by Blogger.